Intinya, bukan tentang bagaimana caramu membuat cokelat, tetapi dengan siapa kamu berbagi cokelat itu.
Sejak kecil, aku selalu bermimpi. Mimpi terbesarku adalah membangun pabrik cokelat sendiri, dan aku sangat ingin ibuku menyaksikannya.
Namun, nyatanya, mimpi hanyalah mimpi. Sulit sekali menggapai mimpi sendiri. Banyak celaan, hambatan, dan percobaan pembunuhan yang aku alami berkali-kali.
Tetapi, aku Wonka yang tidak akan pernah menyerah. Aku mendedikasikan seluruh hidupku hanya demi mempelajari cokelat. Aku tidak bisa membaca, tapi aku mahir dalam membuat cokelat terenak yang tidak pernah dibuat oleh siapa pun.
Inilah petualanganku di sebuah kota yang terkenal dengan produksi cokelat terbaik. Mari kita mulai perjalanan dari sini!
Baca Juga: Review Sweet Home 2, Apa Bedanya Manusia dengan Monster?
Sinopsis Film Wonka

Ah.. aku melihat tempat dimana aku bisa membuat dan menjual cokelat paling enak di dunia ini. Aku memejamkan mataku, membayangkan semua orang memakan cokelat buatanku dengan bahagia.
Aku bernyanyi dengan gembira, merayakan cokelat yang aku buat begitu disukai oleh semua orang. Hingg lamunanku dibuyarkan oleh…
PRITTTTT!!
“Kau didenda. Lihat papan itu, melamun akan didenda. Jadi, bayar dendamu.”
Sial sekali aku tidak membacanya. Alias, aku memang tidak bisa membaca. Baiklah, kini uangku tinggal sedikit lagi. Pikirku, aku harus mencari penginapan dengan biaya termurah.
Namun…
“Halo anak muda, bolehkah aku meminta sebagian koinmu untuk aku mencari penginapan? Demi bayiku.”
Muka wanita tua itu memelas dengan bayi digendong dalam dekapannya. Baiklah, aku memberikan sebagian, dan… sisa satu koin lagi.
Tidak apa-apa satu koin ini akan aku lipat gandakan lebih banyak lagi. Namun.. tring tring tringg… tak! Koin itu jatuh ke dalam saluran air.
Sudah pupus rencanaku untuk menyewa penginapan malam ini. Aku sudah tidak punya koin lagi. Baiklah, aku akan tidur di bangku kota dengan segelas cokelat hangat.
Besok pagi, pasti, aku yakin sekali bisa menjual cokelat buatanku dan menghasilkan banyak uang. Namun tiba-tiba seorang pria menghampiriku.
“Jangan bilang kau akan tidur di situ (sembari menunjuk bangku kota) malam ini? Beberapa jam saja sudah bisa membuatku mati membeku.”
Awalnya aku tidak percaya dan tidak terlalu peduli. Aku hanya butuh semalam saja kok. Tetapi, sesaat setelah itu, cokelat panas yang baru saja aku tuangkan ke cangkir mendadak membeku.
Ada benarnya pak tua ini. Aku tidak bisa tidur di sini malam ini. Dan, saat itu, si pak tua pun menawari penginapan sangat murah dengan hanya 1 koin per malam.
Oke, aku terima. Sial, ternyata banyak terms and condition-nya. Aku bahkan tidak bisa membaca. Apa maksud dari semua syarat dari penginapan ini?
Ah aku tidak peduli. Jadi, aku sepakat untuk menginap di Mrs. Scrubbit dan Bleacher – pak tua tadi yang menawarkan penginapan – tanpa tahu isi dari persyaratan itu.
Keesokan paginya, dengan percaya diri, aku mampir ke tempat di mana tiga perusahaan cokelat (lugworth, Prodnose, dan Fickelgruber) menjajakan cokelatnya.
Aku di depan halaman itu menampilkan cokelat terbaikku. Cokelat dengan rasa yang komleks, ada ceri, vanilla, dan aroma yang harum. Tetapi mereka bilang:
“Cokelat ini yang terburuk”
Mengatakannya sambil tertawa, aku diejek tetapi aku tidak gentar. Aku menawarkan cokelat lainnya. Ini cokelat spesial! Saat Slugworth, Prodnose, dan Fickelgruber mencoba cokelat kedua itu…
Mereka melayang di udara. Sempurna! Ini pertunjukkan yang aku inginkan. Aku mau semua orang tahu bahwa tidak ada cokelat yang begitu unik dan lezat dibandingkan cokelat Wonka.

Setelah melihat tiga kartel pemilik perusahaan cokelat itu melayang-layang di udara, semua orang berebut untuk membeli cokelat buatanku. YES AKU BISA MEMBAYAR PENGINAPAN! Begitu pikirku.
Hingga akhirnya… PRITTTTT
Lagi-lagi polisi datang. Mereka bilang aku melakukan penjualan cokelat ilegal karena tidak punya toko khusus. Akhirnya semua hasil penjualanku saat itu disita polisi, dan hanya disisakan satu koin untuk membayar sewa penginapan.
Aku pulang ke penginapan dengan hati yang sangat sedih dan badan lesu. Aku membayar sewa penginapan yang murah itu. Tapi..
Ternyata aku ditipu. Persyaratan yang sama sekali aku tidak bisa baca, ternyata memvbuatku terjebak dalam hutang yang sangat besar. Akhirnya, aku dipaksa bekerja di sana untuk mencuci kain.
AH! Bagaimana aku bisa mewujudkan impianku jika aku terjebak di sini? Akhirnya, Noodle, salah satu orang yang terjebak di penginapan itu pun memberiku ide bagus!
Dia membantuku menyelinap di tengah-tengah pekerjaan. Tidak hanya Noodle, semua pekerja yang terjebak juga turut membantuku. Dan.. kami berusaha semampunya untuk membuat pabrik cokelat yang paling lezat di dunia.
Tetapi, lagi-lagi itu bukan hal yang mudah, karena kartel cokelat selalu menjegal bisnis cokelatku. Bahkan mencoba membunuh kami! Apakah impianku tidak bisa diwujudkan?
Film Menyenangkan yang Penuh Imajinasi

Sejujurnya aku tidak berekspektasi banyak terhadap film Wonka ini, karena aku pikir akan terasa flat dan hanya memuaskan anak-anak saja mengingat film Charlie in The Chocolate Factory pun sangat kekanak-kanakan.
Tetapi, aku mematahkan ekspektasi rendahku itu saat menontonnya langsung. Sejak menit pertama, adegan di film Wonka sangat menghipnotis.
Film dibuka dengan Wonka yang menyanyi dan menari dengan penuh semangat. Nah, perasaan semangat dari sosok Wonka itu bisa ditransfer secara sempurna kepada penonton.
Aku reflek senyum saat mendengar Wonka bernyanyi dan menari. Tidak hanya itu saja, cara Wonka membuat cokelat pun membuatku takjub.
Aku tidak kepikiran sama sekali membuat cokelat dengan racikan ajaib dan dibumbui trik sulap, hasilnya ada cokelat yang bisa bikin orang terbang, cokelat yang mengubah orang jadi Yeti, bahkan ada juga cokelat yang bikin orang galau. Unik banget.
Baca Juga: Sinopsis dan Review Gadis Kretek, Mencari Keberadaan Jeng Yah
Biasanya, aku selalu menonton film-film yang realistis dan rasional. Aku cenderung kurang cocok dengan film fantasi yang penuh imajinasi seperti ini. But this movie makes it different!
Unsur imajinatif dari film ini dieksekusi dengana degan, dialog, plot, serta CGI yang super apik. Efek lampu bersinar, balon-balon yang terbang, sampai warna-warni dari bahan-bahan cokelat Wonka pun terasa magical!
Aku tidak memikirkan adegan apa selanjutnya, tapi aku lebih menantikan kejutan magis apa lagi yang akan ditampilkan oleh Wonka.
Jadi, kalau kalian jenuh menonton film serius, menegangkan, atau yang terkesan rasional, coba rileks dengan nonton film Wonka, dijamin kamu akan rindu bagaimana otak masa kecilmu dipenuhi dengan imajinasi yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Ide Cerita Standar, Konflik Cukup Berat

Meski sangat menyenangkan, secara plot, cerita film Wonka sebenarnya tidak ada gebrakan baru. Secara ringkas, Wonka ini hanya ingin mewujudkan cita-citanya menjadi pembuat cokelat terenak di dunia.
Sayangnya, banyak yang menjegalnya, yaitu para kartel cokelat yang sirik karena keahlian Wonka meramu cokelat di atas rata-rata dan itu mengancam bisnis cokelat mereka. Simple kan?
Dan, kita juga sudah tahu ending-nya pasti Wonka berhasil. Kalau diceritaakn seperti itu saja terkesan simple. Untungnya eksekusinya memuaskan, jadi plot yang standar ini bukan masalah.
Tetapi, yang perlu digarisbawahi, aku merasa bahwa konflik cerita yang ada di film Wonka ini agak cukup berat jika ditonton oleh anak-anak SD.
Pertama, di sini banyak sekali mengobrol soal bisnis cokelat yang menurutku cukup serius. Topik ini mungkin tidak akan relate untuk anak-anak SD.
Kedua, penjegalan yang dilakukan oleh kartel cokelat juga tergolong cukup kompleks. Jarang sekali film anak yang menggunakan kata ‘kartel’ seolah ini adalah masalah serius. Aku rasa anak SD agak kesulitan memahami kata ‘kartel’ itu sendiri.
Ketiga, isu pejabat polisi yang korup pun menjadi salah satu isu konflik yang agak berat jika disuguhkan untuk anak SD. Mungkin mereka akan bingung, kenapa polisi menjadi jahat padahal harusnya melayani masyarakat?
Baca Juga:Review dan Sinopsis Petualangan Sherina 2, Nostalgia yang Berhasil!
Keempat, di sini menyeret soal kasus korup di gereja di mana Pastor di gereja tersebut pun kena suap dan aksi korup, bersekongkol dengan kartel cokelat.
Isu tersebut mungkin akan menjadi paradoks di benak anak-anak SD, kenapa gereja yang seharusnya menjadi tempat suci untuk beribadah malah dijadikan tempat kriminalitas?
Jadi, aku sarankan bagi orang dewasa yang mau mengajak anak-anaknya menonton Wonka, sebaiknya beri pemahaman yang simple tentang keempat isu yang aku sebutkan tadi.
Oh iya, di sini juga ada adegan percobaan pembunuhan, mulai dari menenggelamkan Wonka dengan cokelat hingga menjebak Wonka di dalam kapal yang penuh bom.
Nah, itu juga menjadi concern dan beritahu anak-anak bahwa hal tersebut adalah tindakan kekerasan yang tidak boleh diikuti. Beri pengertian sesuai dengan kemampuan cara berpikir anak-anak SD.
Selebihnya, film ini sangat aman untuk ditonton oleh semua umur, kok.
Timothรฉe Chalamet Membawa Karakter Wonka dengan Cara yang Beda

Sejujurnya, aku tidak menemukan kesamaan antara Wonka yang dibawakan oleh
Timothรฉe Chalamet dan Wonka yang dibawakan oleh Johnny Depp. Mungkin kalian juga bertanya-tanya:
Mana yang lebih baik? Wonka versi Timothรฉe Chalamet atau versi Johnny Depp?
Aku tidak bisa memilih, karena menurutku keduanya membawa karakter Wonka yang agak sedikit berbeda. Oke, aku mau mendeskripsikan Wonka secara fisik dulu.
Untuk wonka versi Timothรฉe Chalamet ini punya rambut yang kriting, dan matanya lebih berbinar. Tapi, Wonka versi Johnny Depp memiliki rambut klimis yang sangat lurus, matanya pun sudah mulai agak suram seolah sudah melewati asam, pahit, manisnya hidup.
Secara sifat dan sikap, Wonka versi Timothรฉe Chalamet lebih ceria dan optimis. Tetapi, seingatku Wonka versi Johnny Depp terkesan lebih skeptikal dan agak ketus.
Jadi, kalau aku boleh berasumsi, aku menangkapnya bahwa Wonka versi Timothรฉe Chalamet adalah anak muda yang ambisius dan optimistik.
Namun, setelah melewati berbagai masalah kehidupan, Wonka mengalami perkembangan karakter yang cukup signifikan sehingga membuatnya menjadi Wonka yang ketus dan skeptikal di masa tuanya.
Yang menjadi pertanyaan besarku, entah kenapa di Wonk versi Timothรฉe Chalamet hanya menceritakan tentang ibunya saja.
Seingatku, di Wonka versi Johnny Depp, ia sangat trauma dengan ayahnya sehingga membuatnya menjadi seseorang yang jutek, judes, skeptikal, dan ketus.
Baca Juga: Review dan Sinopsis Insidious: The Red Door, Setan Merah Kembali!
Kalau memang ini film Wonka 2023 sebuah pre-quel, aku berharap latar belakang Wonka lebih diperdalam lagi, karena jujur saja aku tidak menemukan benang merah (kesamaan) antara Wonka masa muda dengan Wonka yang sudah mulai ingin pensiun.
Seolah, Wonka versi Timothรฉe Chalamet adalah Wonka yang hidup di universe lain, bukan Wonka yang selama ini kita kenal di film Charlie in The Chocolate Factory.
Satu hal yang mungkin membuat penonton yakin bahwa mereka adalah Wonka yang sama, yaitu kehadiran Oompa-Loompa, karena dari Oompa-Loompa lah kita tahu persamaan antara Wonka di film 2023 dan film 2005.
Bahkan, kita diberitahu asal usul kenapa Oompa-Loompa bisa bekerja di pabrik cokelat milik Wonka.
Jadi, kesimpulannya baik Timothรฉe Chalamet dan Johnny Depp sama-sama memiliki kualitas membawakan karakter Wonka yang apik hanya saja terasa berbeda. Beda bukan berarti jelek, kita justru diberi persepektif baru sehingga bisa menilai lebih luwes dan luas.
Ya itu saja sepertinya celotehanku alias review film Wonka 2023 dariku. Sepanjang menonton film ini tidak bisa aku pungkiri bahwa aku banyak tersenyum dan bertepuk tangan, bahkan tertawa lepas karena semua imajinasiku benar-benar diasah dengan baik oleh sebuah film.