Sinopsis dan Review Novel Sirauik – Mereka Hanya Butuh Nama, Tidak Peduli Kebenaran

Sinopsis dan Review Novel Sirauik (2)

“Zaman kini, Ran, Bukan soal salah atau benar. Kadang, orang mati bukan karena dosa, tapi karena orang lain butuh alasan.”

Tahun 1958 di Sumatera Barat meninggalkan luka dan trauma berkepanjangan. Mungkin, sampai saat ini mereka masih merekam memori ketakutan yang amat mencekam ketika para aparat itu memanggil nama mereka.

Yang dipanggil dan dibawa, tidak akan pernah kembali. Entah untuk alasan apa, tapi aparat itu butuh nama untuk disetor ke atasan. Mereka hanya butuh alasan tanpa mau tahu kebenarannya.

Detail Novel Sirauik

Sinopsis dan Review Novel Sirauik (3)

Sinopsis Novel Sirauik

Sinopsis dan Review Novel Sirauik (1)

“Kenapa ayah harus pergi?”

Pertanyaan Syahrir, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun itu bertanya dengan lirih kepada Amak. Syahrir tidak menyangka bahwa ayah yang begitu ia sayangi dan ia hormati tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya sejak pergi ke hutan.

Kata orang, hutan adalah tempat para pemberontak melarikan diri. Ya, ayah Syahrir ada di dalam daftar nama pemberontak oleh aparat karena ia terlibat dalam PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).

Memang betul ayahnya tergabung dalam gerakan PRRI, tapi bukan untuk memberontak kepada pemerintahan. Ayah syahrir melakukan itu karena sependapat dengan tujuan PRRI, yaitu Menuntut pemerataan pembangunan, otonomi daerah yang lebih besar, dan memperbaiki ketimpangan ekonomi antara pusat dan daerah.

Tapi sayangnya, pemerintah Soekarno saat itu menganggapnya lain. Menganggap bahwa gerakan PRRI ini adalah tindakan anarkis yang mana semua anggotanya perlu disingkirkan. Oleh karenanya, ayah Syahrir pergi ke hutan. Bukan kabur, melainkan bersembunyi dan berlindung dari tindakan semena-mena sang aparat.

Sialnya, baru beberapa saat ke hutan, ayah Syahrir ditemukan tewas di dekat sungai. Sejak saat itulah, Syahrir ditunjuk sebagai pemegang amanah Sirauik.

Sinopsis dan Review Novel Sirauik (5)

“Sirauik diberikan kepada kami sebagai tanda naik tingkat kepantasan. Bilah Sirauik melengkung seperti bulan sabit, dingin ketika menyentuh telapak, tetapi tidak pernah dimaksudkan untuk disepuh dengan darah.”

Tidak sembarangan orang bisa memegang amanah Sirauik. Berbagai macam tes kepantasan telah dilalui Syahrir sehingga ia paham tujuan dan maksud dari Sirauik ini.

“Dingin itu bukan dingin besi semata, melainkan dingin peringatan bahwa sesuatu yang tajam harus lebih dahulu menundukkan hati sebelum menundukkan lawan.”

Sirauik bukan senjata untuk membalas dendam. Bukan senjata yang bisa dipegang oleh seseorang yang penuh amarah.

“Tubuh direndahkan supaya hati tidak meninggi. Langkah didekatkan ke tanah agar ingat asal kejadian.”

Syahrir paham betul akan amanah Sirauik. Namun, sekarang dirinyalah yang terancam. Sebagai anak dari Rahmaddin sang pemegang Sirauik itu langsung diburu aparat. Syahrir ditanyai soal Sirauik. Namanya disebut. Nama ayahnya disebut.

Di sinilah Syahrir menemukan dilemanya. Apakah ini saatnya Syahrir menggunakan Sirauik miliknya? Atau, haruskah Syahrir pergi ke hutan sebagai orang rimbo yang dikejar aparat? Lalu, bagaimana nanti nasib Amak? Tapi, bagaimana nasib Syahrir setelah aparat membubuhkan namanya dalam daftar “hitam”?

Inilah kisah anak 15 tahun, yang mencekam penuh ketakutan akan diburu oleh aparat. Anak 15 tahun yang memegang Sirauik itu ada dalam daftar!

Baca Juga: Review Buku Di Luar Radar Karya Trinity โ€“ 3 Hal Menarik, Ternyata Dunia Itu Super Luas

Kisah PRRI yang Jarang Disorot

Sinopsis dan Review Novel Sirauik (7)

Aku salah satu pecinta novel sejarah fiksi. Namun, harus aku akui ternyata sejarah fiksi itu kebanyakan berpusat pada sejarah PKI atau tragedi 98, masih sangat jarang yang mengangkat sejarah kelam Indonesia lainnya seperti PRRI ini.

Padahal sejarah kelam PRRI ini sangat mengerikan. Bahkan, kabarnya Operasi Tegas kepada PRRI sudah menelan lebih dari 22.000 korban! Aku rasa seharusnya kita lebih ‘melek’ dengan sejarah-sejarah seperti ini. Bukan hanya menunggu buku sejarah yang sudah direvisi untuk menjelaskan peristiwa, tapi benar-benar memahami bagaimana keadaan dan peristiwa yang sebenarnya.

Sebenarnya, dalam novel ini tidak kalah menegangkan dengan novel-novel sejarah fiksi serupa. Di sini memang lebih banyak menekankan bagaimana suasana yang mencekam pada saat itu aparat memburu warga yang dicurigai terlibat dalam PRRI.

Emosiku di sini sangat diuji. Aku sangat kesal ketika ada yang bilang bahwa para aparat ini tidak butuh kebenaran, mereka butuh nama hanya untuk alasan. Artinya, saat Operasi Tegas, aparat tidak pernah benar-benar menyelidiki siapa yang terlibat dan siapa yang benar-benar innocent.

Hal kayak gitu memang biasanya selalu kejadian di berbagai sejarah kelam Indonesia, ya? Miris sih.

Baca Juga: Review Buku Le Petit Prince, Dongeng yang Menyentil Kehidupan Manusia

Sirauik yang Penuh dengan Filosofi

Sinopsis dan Review Novel Sirauik (2)

Nah, yang aku suka lagi dari novel ini bukan hanya bikin aku lebih merasakan emosi, tapi juga jadi banyak belajar hal baru terutama soal Sirauik. Aku tidak pernah tahu sebelumnya bahwa Sirauik merupakan senjata tradisional khas Minangkabau.

Aku pikir, senjata tradisional ya.. hanya untuk berperang. Untuk menumpahkan darah. Tapi ternyata Sirauik itu bukan senjata yang tujuannya seremeh itu. Justru Sirauik punya kedalaman makna yang sangat filosofis.

Pada halaman awal, novel ini menjelaskan apa tujuan Sirauik dan kenapa tidak sembarang orang boleh memegang atau memiliki Sirauik. Aku mudah memahami, karena penjelasan di novel ini tidak berbelit namun dibahasakan dengan puitis yang tidak lebay.

Intinya, Sirauik ini bukan senjata yang tujuannya untuk menyakiti melaibnkan untuk mempertahankan diri sehingga siapa pun yang mengemban amanah senjata Sirauik ini harus punya sikap yang berwibawa dan rendah hati.

Justru orang yang merasa tinggi atau sombong, ia tidak berhak untuk memiliki dan memegang Sirauik. Hanya mereka yang mampu diam dan tenang saja yang sanggup mengemban amanah Sirauik. Bagus kan maknanya?

Baca Juga: Sinopsis dan Review Gadis Kretek, Mencari Keberadaan Jeng Yah

Memungkinkan untuk Sekuel?

Sinopsis dan Review Novel Sirauik (4)

Masih belum puas dengan cerita Syahrir! Satu novel saja, menurutku, rasanya kurang untuk menggambarkan kekejaman aparat pada masa PRRI. Aku sangat mengharapkan ada buku kedua atau setidaknya sequel karena aku penasaran banget dengan kisah ayahnya Syahrir.

Kisah Syahrir di buku ini sudah cukup memuaskan. Dan menurutku ending-nya sudah pas dan tidak perlu diubah. Jadi, sudah cukup untuk menceritakan Syahrir di novel ini. Tapi, aku masih haus dengan kisah ayahnya yang menjadi anggota PRRI.

Apalagi, dalam novel ini disebutkan bahwa ayah Syahrir adalah seseorang yang begitu agamis dan terpandang di daerahnya. Aku mengharapkan bagaimana perjalanan dan perjuangan ayah Syahrir dan anggota-anggota PRRI yang pada saat itu memperjuangkan apa yang mereka tuntut ke pemerintah.

Aku juga penasaran, bagaimana orang rimbo alias para anggota PRRI hidup di hutan dan dikejar-kejar oleh aparat. Aku yakin nuansanya akan lebih menegangkan dan bakal lebih banyak hal menarik untuk digali.

Secara keseluruhan novel ini sangat seru untuk dibaca apalagi untuk yang suka sejarah fiksi. Latar belakang PRRI dengan sudut pandang Sirauik ini sangat unik dengan harapan adanya sekuel yang mungkin bisa memberikan gambaran lebih detail dan luas tentang kejadian tragis ini.

Update Kpop Terbaru di Google News Hobihepi.com

Also Read

Bagikan:

Listiorini Ajeng Purvashti

Being a KPOPers, love to watch drakor, movies, anime, etc, since high school. Become a professional content writer since 2017 with various topics, but her speciality topics are KPOP, entertainment, lifestyle, and technology.