“Kalau sekarang saja sudah merasa kesepian, apa yakin nanti di masa tua tidak akan kesepian juga?”
-Trinity
Meski sudah hidup lebih dari 30 tahun, aku hanya sebatas “tahu” bukan paham dan sadar bahwa dunia itu sangat luas dan beragam. Thanks to Mbak Trinity memberikan pengalaman dan perspektif unik dari setiap bab yang ada di buku ini.
Isi buku ini dibuka dengan kisah yang terasa dekat dengan kehidupan di Indonesia, hingga yang ada “Di Luar Radar” Indonesia.
Detail Buku Di Luar Radar – Trinity

- Judul: Di Luar Radar
- Penulis: Trinity
- Tahun terbit: 2025
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Genre: Non Fiksi
- Link pembelian buku: Shopee – TikTok
Review Buku Di Luar Radar – Trinity
Kali ini aku tidak membaca novel melainkan sebuah buku non-fiksi yang awalnya aku pikir ini buku membosankan. Lagi pula, apa yang seru dengan membaca perjalanan seseorang yang terasa personal?
Namun nyatanya semua itu terpatahkan saat aku mulai ketagihan dengan setiap lembar halaman yang aku baca dalam buku ini.
Semua bab di buku ini mampu memberikan perspektif, pengalaman, dan pengetahuan baru yang benar-benar “Di Luar Radar” pikiranku sendiri. Tidak pernah sebelumnya aku berpikir soal kehidupan emak-emak, misionaris, atau tentang budaya kepercayaan Mormon.
Pembukaan yang relateable dengan kehidupan Indonesia

Aku tahu apa itu kemiskinan struktural, tapi rasanya aku belum memahami betul akar masalah yang sebenarnya dari kemiskinan struktural. Bab pertama di buku ini berjudul “Geng Ibu-Ibu Kuburan” yang mana ini menjadi salah satu reminder untuk diriku sendiri bahwa investasi terbaik itu pendidikan alias ilmu.
Mbak Trinity mengawali kalimat bab ini dengan mengatakan:
Rumah gue di kuburan!
Bagi kebanyakan orang Indonesia yang percaya mitos, mungkin akan terasa mengagetkan. Sama, seperti pertama kali aku baca kalimat itu, banyak pertanyaan muncul salah satunya adalah “apa yang menarik dengan rumah di kuburan?”
Aku membayangkan mungkin rumah di dekat kuburan yang kalau malam hari itu sepi, tapi di sini Mbak Trinity menjelaskan justru area Pemakaman Umum di dekat rumahnya itu sangat ramai. Banyak yang main, ada berbagai pilihan tukang jajanan, bahkan ada yang pacaran.
Tapi keramaian itu ternyata tersekat oleh wilayah perumahan dengan area pemukiman warga yang kumuh. Bisa dibilang kuburan ini menjadi pembatas antara komplek orang kaya dan orang miskin. Terkesan kasar, ya, tapi itulah faktanya.
Rumah Mbak Trinity tentu ada di area pemukiman yang layak, namun ia juga sering bergaul dengan ibu-ibu yang ada di pemukiman “Non Kaveling” alias perumahan yang semrawut.
Di sana, Mbak Trinity menunjukkan betapa kehidupan para warga Non Kaveling yang berbeda jika dibandingkan dengan warga kaveling atau warga komplek. Dari cara berpikir, topik obrolan, hingga kebiasaan belanja. Wajar saja jika banyak prasangka muncul antara warga kaveling dan non kaveling, tapi itu hanya prasangka yang kurang komunikasi dan pengertian.

Namun, yang paling aku highlight dari kisah ini adalah alasan kenapa warga non kaveling akan selalu menjadi bagian dari warga kalangan menengah ke bawah. Ya, akar masalahnya adalah kemiskinan struktural.
Dengan gap pendidikan yang cukup tinggi, cara berpikir antara warga kaveling dan non kaveling ini sangat kontras. Contohnya ketika belanja, mereka lebih mementingkan gaya hidup dibandingkan menabung. Mereka rela berhutang atau nyicil untuk beli sesuatu yang diinginkan bukan yang dibutuhkan. Alhasil, mereka harus bekerja lebih keras hanya untuk bayar cicilan barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Kisah ini sangat nempel di kepalaku, karena aku pun sering melihat hal serupa di sekelilingku. Bahkan, beberapa pun menyebut lebih baik menyicil daripada tidak pernah punya sama sekali.
Dari cerita ini membuatku menjadi berpikir, apakah kita harus selalu memiliki semua yang diinginkan?
Petuah yang tidak menggurui dan tidak menghakimi

“Nyatanya, baik yang menikah maupun yang lajang, semua punya resikonya”
-Trinity
Banyak orang Indonesia punya budaya “mulut gatal” kalau nggak komentari kehidupan orang lain. Salah satu komentar yang paling sering didengar adalah…
KAPAN NIKAH?
Pertanyaan itu dijadikan sebuah budaya basa-basi yang hampir setiap ketemu selalu menanyakan hal yang sama sampai si target benar-benar menikah. Nyatanya, pertanyaan itu tidak berhenti. Bahkan setelah menikah pun masih ada pertanyaan lanjutan..
KAPAN PUNYA ANAK?
Apakah masih berhenti di situ? Tidak, karena akan ada terus lanjutan pertanyaan yang keluar dari “mulut gatal” dengan dalih basa-basi. Tidakkah kita bisa berbasa-basi dengan lebih general tanpa mengusik pilihan personal seseorang? Entahlah.
Nah, pertanyaan pertama tadi adalah pembahasan yang ada di buku ini yang aku rasa masih berada “Di Luar Radar” (di luar concern) kebanyakan orang Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia beranggapan bahwa tidak menikah itu akan membuat seseorang menjadi kesepian.
Baca Juga: Sinopsis dan Review Gadis Kretek, Mencari Keberadaan Jeng Yah
Tapi pertanyaannya adalah, apakah benar ketika sudah menikah masih tidak merasa kesepian?
Apakah tidak menikah pun menjadi orang yang kesepian?
Aku setuju dengan pembahasan Mbak Trinity bahwa tidak ada jawaban mutlak atas pertanyaan tadi karena baik melajang maupun berpasangan memiliki risikonya sendiri. Bukan berarti yang menikah otomatis bahagia, dan tidak pula yang single itu tidak bisa bahagia.
Buku ini juga menjelaskan bahwa kesepian itu tidak selalu sendirian tanpa orang lain. Justru kesepian itu hadir karena merasa tidak dipahami oleh orang lain. Nah, kalau menikah dan berpasangan tapi merasa tidak dipahami, kesepian itu juga akan muncul. Lagi pula lebih menyakitkan ketika hidup bersama orang yang membuat kita merasa kesepian kan?
Jadi, mau menikah atau tidak itu adalah pilihan personal. Kesepian bukan alasan untuk menikah atau ketidakbahagiaan karena memilih tidak menikah. Kesepian itu juga perasaan yang masih bisa dikelola oleh setiap pribadi masing-masing.
Di buku ini, aku setuju dengan solusi-solusi yang ditawarkan untuk mengatasi kesepian, salah satunya adalah mengisi kegiatan yang bermakna. Kalau kata Mbak Trinity dalam buku ini:
“Kalau terus hidup demi memenuhi harapan orang lain, kapan kita punya waktu memilih jalan sendiri?”
-Trinity
Fakta-fakta tak terduga

Bukan hanya sekedar petuah menenangkan, tapi dari buku ini aku mendapatkan banyak fakta menarik di luar Indonesia dan di luar radarku tentu saja. Terutama soal agama dan kepercayaan.
Aku memang belum banyak memahami agama lain selain agama yang aku percaya (Islam) sehingga aku cukup excited dengan beberapa pembahasan agama yang berbeda. Bukan untuk dibandingkan, tapi untuk menjadi ilmu baru siapa tahu aku juga akan berjalan-jalan seperti Mbak Trinity ke berbagai negara dengan perbedaan kepercayaan. Setidaknya, aku bisa memahami dan lebih menghargai perbedaan tersebut.
Aku pernah dengar kepercayaan Mormon. Banyak desas-desus negatif tentang kepercayaan itu sehingga membuatku juga ikut terbawa pemikiran tersebut. Ternyata, Mbak Trinity pun sama denganku.
Pada halaman 172 bagian “Aliran (Tidak) Sesat)” ada kisah menarik dari kenalan Mbak Trinity yang menganut kepercayaan Mormon. Ada penggambaran kebiasaan apa saja yang dilakukan oleh para penganut Mormon, misalnya:
- Budaya kumpul keluarga setiap malam Minggu yang disebut Family Home Evening.
- Membaca alkitab dan berdoa sebelum tidur.
- Hingga, pergi ke gereja berbentuk segitiga.
Nah, semua yang dilakukan ini normal, tidak mengintimidasi, tidak mencelakai, intinya tidak merugikan siapa pun. Bahkan, menurut penuturan Mbak Trinity di buku ini, tata cara beribadahnya pun mirip dengan Kristen Protestan. Malahan sosok Joseph Smith yang disebut sebagai pemimpin Mormon pun tidak disebutkan dalam alkitab. Jadi, aku pun ikut bertanya-tanya dari manakah asal muasal pandangan negatif soal Mormon, ya?
Baca juga: Review Novel Kim Jiyeong Lahir Tahun 1982, Novel Kontroversial
Dan, nggak cuma tentang kepercayaan Mormon, ada juga fakta-fakta menarik soal agama Baha’i, hingga kenyataan bahwa Indonesia adalah pengirim misionaris Katolik terbesar di dunia lho. Padahal Katolik adalah agama minoritas di Indonesia.
Dari buku ini, aku merasa seperti diajak melihat dunia dengan sudut pandang yang beragam yang bahkan tidak pernah ada di radarku sebelumnya. Penulisannya yang santai seperti mendengarkan orang menceritakan pengalamannya itu membuatku ingin terus lanjut baca ke halaman berikutnya.
Menurutku ini juga buku yang sangat cocok buat kamu yang mungkin baru membiasakan diri dengan bacaan non-fiksi. Ringan namun penuh fakta menarik!

