Kalau sudah menikah, ibu sudah tidak menjagamu lagi. Jadi, kalau ada masalah yang belum selesai di masa lalu, pada siapapun, harus diselesaikan.
Pernikahan memang selalu identik dengan kebahagiaan. Siapa yang tidak bahagia jika dua orang yang saling mencintai bisa bersama satu sama lain, dalam suka maupun duka, dengan ikatan yang sakral dan suci.
Namun, di balik sebuah pernikahan yang amat sangat membahagiakan itu, mungkin ada satu atau dua orang yang masih menyimpan dendam. Dendam yang terlalu dalam bisa menimbulkan malapetaka yang dahsyat sehingga bisa menghancurkan kebahagiaan dari pernikahan itu sendiri.
- Tahun Rilis: 2025
- Sutradara: Tommy Dewo
- Pemain: Titi Kamal (Rina), Darius Sinathrya (Pram), Sara Wijayanto (Mawar), Egy Fedly (hantu kakek)
- Tonton di: Netflix
Sinopsis Film Getih Ireng

Cantiknya anak ibu.
Rina saat itu sedang duduk di atas ranjang dengan hiasan melati di kepalanya. Baju kebaya kutu baru berwarna merah dengan bahan beludru itu menambah aura kecantikan yang luar biasa bersinar. Terlihat simple, namun sangat elegan. Tidak salah jika ibunya memuji Rina setinggi langit.
Sambil mengelus sayang bagian kepala Rina, sang ibu menuturkan wejangan terakhirnya.
“Ingat ya, nduk. Setelah menikah, ibu tidak menjagamu lagi. Kalau masih ada masalah di masa lalu yang belum selesai, segera diselesaikan. Entah itu masa lalu darimu atau suamimu.”
Ibunya Rina mengingatkan hal yang sama berulang kali sebelum ia melangsungkan pernikahan dengan Pram. Dan, berulang kali pula Rina memantapkan jawabannya dengan mengatakan, “iya Bu, tidak ada kok.“
Karena Rina tampak begitu yakin, sang Ibu pun kembali meninggalkannya sendiri di kamar pengantin yang tampak sederhana tanpa hiasan apapun. Rina kembali ke hadapan cermin dengan maksud merapikan kembali tatanan rambutnya agar terlihat makin sempurna di acara yang paling membahagiakannya ini. Namun tiba-tiba…
CKRAKKK KREKKK!
Suara cermin yang ada di hadapannya langsung retak tanpa aba-aba. Terkejut, Rina reflek memundurkan badannya sambil mulutnya menganga lebar.
Tak lama dari kejadian kaca retak, sekarang foto Rina bersama Pram yang ditempel di dinding kamarnya juga tiba-tiba jatuh. Jika dilihat sekitar, tidak ada angin atau apapun yang bisa menjatuhkan foto tersebut. Rina menjadi tidak enak hati.
Tapi, perasaan itu ditepis dan berubah menjadi rasa penasaran yang amat kuat tatkala seorang kakek-kakek berambut gondrong keriting dengan pakaian hitam-hitamnya menampakkan diri di seberang Rina.
Secara reflek, Rina mengikuti kakek itu yang berjalan lambat tapi cukup cepat menghilang ke arah tempat Rina mengadakan siraman. Saat melihat air siraman, Rina merasa aneh karena airnya begitu hitam pekat, dan bangkai tikus muncul ke permukaan. Reflek Rina teriak. Semua warga yang rewang ikut terkejut melihat penampakkan itu.
Ibu Rina menenangkannya, menganggap semua itu hanya kejadian biasa. Dan, pernikahan pun berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan setelahnya, Rina dan Pram sudah berada di mobil untuk pindah ke Wonosobo menuju rumah baru mereka.
Wonosobo yang terkenal sebagai daerah sangat dingin itu menjadi sebuah neraka untuk Rina dan Pram. Awalnya, mereka berdua hanya diteror dengan hawa panas yang membuat Rina selalu mandi tengah malam.
Lama kelamaan… AAAAAAAAA!!
Rina sering terbangun dari tidur lelapnya hanya karena memimpikan si kakek-kakek baju hitam yang mengatakan, “aku ingin kamu.”

Awalnya, Pram merasa itu hanya halusinasi Rina tapi suatu malam Pram melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa seorang kakek-kakek menindih badan Rina sambil mengeluarkan liur yang menjijikkan. Pram segera menyelamatkan istri tercintanya, dan kakek-kakek itu menghilang bagaikan asap yang ditiup, pooofff…
Akhirnya, Pram dan Rina setuju untuk mengundang orang pintar yang lebih paham soal hal mistis. Pak Narto namanya, sejak menginjakkan kaki di rumah Rina dan Pram, ia sudah merasakan hal ganjil. Benar saja dugaannya, ada buhul yang disimpan di area atap rumah mereka.
Saat buhul itu dibuka..
Ini bukan sembarang santet, ini getih ireng.
Begitu kata pak Narto dengan ekspresinya yang menunjukkan rasa takut, cemas, bahkan iba terhadap pasangan muda itu. Pak Narto menjelaskan bahwa santet jenis ini sangat berbahaya dan memang ditunjukkan untuk merusak garis keturunan dari si penerima santet. Apabila Pram dan Rina ingin mencabut santet tersebut, mereka harus tahu buhul utamanya dan siapa pengirimnya.
Di situlah semua rahasia mulai digali.
Siapa pengirim santet?
Kenapa dia mengirim santet kepada Rina dan Pram?
Apa kesalahan Rina dan Pram sampai si pengirim tega melakukan ini pada mereka?
Akankah Rina dan Pram bisa menghentikan kutukan tersebut?
Pemeran yang Pas Sekaligus Tak Terduga

Aku cukup puas dengan pemilihan karakternya. Titi Kamal yang menjadi Rina begitu terlihat seperti wanita baik-baik, polos, dan tenang. Wajahnya yang tetap bugar dan awet muda membuat karakter Rina tampak begitu hidup dan anteng banget.
Hanya saja, menurutku kesan Titi Kamal di dalam film ini terlalu kalem. Bahkan, saat ia mengamuk pun aku tidak merasakan perasaan marahnya. Ia seperti hanya memainkan ekspresi wajah tanpa memperlihatkan bahwa ia benar-benar marah.
Dan, untuk karakter Pram yang dibawakan oleh Darius Sinathrya justru lebih memuaskan. Ia selayaknya bapak-bapak yang tidak percaya hantu. Namun, hal yang paling epik dan memorable dari aktingnya di Getih Ireng adalah ekspresi marahnya.
Ketika ia marah, otot-otot wajahnya ikut mengerut dan terangkat. Bahkan, bagian keningnya ikut berkeriput. Jika diperhatikan area lehernya pun penonton bisa melihat guratan nadi yang keluar dari sana. Mungkin jika ada efek muka berwarna merah ala orang marah, ekspresi ini bakal lebih meyakinkan lagi.
Nah, yang aku tidak sangka-sangka dalam karakter ini adalah Sara Wijayanto. Ia turut andil dalam film ini sebagai karakter bernama Mawar, namun kali ini bukan sebagai dukun. Aku rasa karakternya sebagai Mawar sangat pas, dan aku paling suka bagian akhirnya.
Sara Wijayanto bisa bertarung dengan cukup baik secara natural. Nafasnya yang tersengal seolah kelelahan tapi diburu oleh emosi itu bagian yang paling bagus, menurutku.
Dan, sayangnya karakter si kakek oleh Egi Fedly malah terasa monoton padahal ia menjadi pusat ghaibnya. Ekspresinya sudah cukup menyeramkan, tapi makeup-nya tidak mendukung apalagi saat ia bertransformasi seperti monster, tidak menyeramkan sama sekali seolah hanya diberi kostum dan disuruh teriak-teriak ala monster saja.
Mengagetkan? Tidak. Menjijikkan? Cukup

Yang namanya film horor sudah tidak asing lagi dengan jumpscare. Nah, untungnya film horor satu ini tidak memiliki jumpscare yang bikin jantung copot. Penonton sudah diberi ekspektasi setiap kejutan yang akan muncul. Dan, ini jadi film horor yang cocok untuk si penakut atau parnoan.
Tapi, kalau ada yang tidak suka dengan gore alias darah bercecer di mana-mana, mungkin tidak terlalu menyukai film ini. Pasalnya, dari awal aku sudah merasa jijik dengan air liur yang ditumpahkan ke muka Rina lewat mulut si kakek.
Air liurnya terlihat sangat berlendir, bahkan bisa dibayangkan bagaimana bau dari air liur itu. Bukan hanya itu, di sini juga ada beberapa bagian mutilasi tubuh manusia, darah muncrat ke sana kemari, hingga darah mengucur seperti keran air.
Bahkan, ada salah satu scene saat kepala tertebas dan menggelinding di lantai, aku menontonnya terasa ikut ngilu.
Pesan Pernikahan yang Menohok

Kalau ditanya, apa sih pelajaran yang bisa dipetik dari film ini? Tentu saja film ini memberikan sebuah nasihat pernikahan di mana ketika memutuskan untuk menikah, sebaiknya saling jujur terhadap calon pasangan.
Jujur di sini maksudnya dengan semua hal terutama dengan sikap-sikap yang tidak mengenakan di masa lalu, apalagi sikap tersebut menyakiti orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran orang lain saat sakit hati. Syukur jika ia mau memaafkan, tapi jika tidak maka bisa saja orang tersebut nekat melakukan hal-hal keji yang merugikan kita sendiri.
Selain itu, aku juga melihat pesan bahwa percuma saja menaruh dendam apalagi berniat untuk membalasnya dengan cara yang melenceng dari norma, karena hal itu justru akan menambah dendam dan memberikan permasalahan baru lagi.
Wajar jika seseorang menaruh dendam ketika ia disakiti, tapi jika dendam itu dipupuk terus menerus tentu akan menggerogoti dan malah membuat kita menjadi pribadi yang lebih buruk.
Toh dalam film ini si pengirim santet hanya terpuaskan dendamnya sekitar 7 tahun, setelahnya ia harus meregang nyawa dengan cara yang menyakitkan. Menurutku, itu sangat tidak sepadan dengan semua pengorbanan santet yang ia lakukan karena orang yang menyakitinya pada akhirnya tetap kembali menyakitinya dengan cara berbeda.
Jadi, apakah film ini worth it untuk ditonton? Bagiku 50:50 karena alurnya sangat mudah ditebak. Ini bukan tipe film horor yang membuat bulu kuduk meremang, hanya cukup duduk, tonton, dan nikmati alurnya tanpa perlu banyak berpikir dan kaget.
Baca Juga: Sinopsis dan Review Film Wonka 2023, Dunia Penuh Imajinasi

